Minggu, 15 Januari 2017

Tugas Sofskill Ke-4
Nama  : Era Lovi Setyowati
Kelas   : 3PA14
NPM   : 13514588


I. EMPOWERMENT, STRESS DAN KONFLIK
A.    Pengertian Empowerment

Empowerment adalah upaya mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai objek tetapi nsebagai pelaku atau aktor yang menentukan hidup mereka sendiri.
Secara umum pemberdayan didefinisikan sebagai suatu proses sosial multi-dimensional yang membantu penduduk untuk mengawasi kehidupannya sendiri. Pemberdayaan itu merupakan proses yang memupuk kekuasaan (yaitu, kemampuan mengimplementasikan) pada individu untuk penggunaan bagi kehidupan mereka sendiri, komunitas mereka, dengan berbuat mengenai norma-norma mereka tentukan.

Richard Carver, Managing director dari Covardale Organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi.

B.     Pengertian Stress
Suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis yang memengaruhi emosi, proses berfikir, dan kondisi seseorang, stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Gejala-gejala stres yaitu gugup, tegang, selalu cemas, gangguan pencernaan, tegangan darah tinggi. Orang-orang yang mengalami stres bisa menjadi nervous dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering menjadi mudah marah dan agresif, tidak dapat rileks, atau menunjukkan sikap yang tidak kooperatif.
Para ahli mengatakan bahwa stres dapat timbul sebagai akibat tekanan atau ketegangan yang bersumber dari ketidakselarasan antara seseorang dengan lingkungannya.

-          Sumber Stress
Pada dasarnya berbagai sumber stres dapat digolongkan pada yang berasal dari pekerjaan dan dari luar pekerjan seseorang. Berbagai hal yang dapat menjadi sumber stres yang berasal dari pekerjaan pun dapat beraneka ragam seperti beban tugas yang terlalu berat, desakan waktu, iklim kerja yang menimbulkan rasa tidak aman, kurangnya informasi dari umpan balik tentang prestasi kerja seseorang, ketidak seimbangan antara wewenang dan tanggung jawab, ketidakjelasan peranan karyawan dalam keseluruhan kegiatan organisasi, frustasi yang ditimbulkan oleh intervensi pihak lain didalam dan diluar kelompok kerjanya, perbedaan sistem nilai yang dianut oleh organisasi dan perubahan yang terjadi yang pada umumnya memang menimbulkan rasa ketidakpastian.
Situasi lingkungan diluar pekerjaan pun dapat menjadi sumber stres. Berbagai masalah yang dihadapi oleh seseorang, seperti masalah keuangan, perilaku negatif anak-anak, kehidupan keluarga yang tidak atau kurang harmonis, pindah tempat tinggal  ada anggota keluarga yang meninggal, kecelakaan.
Dilain pihak stres dapat di sebabkan karena :
-          Kekhawatiran finansial
-          Masalah-masalah yang bersangkutan dengan anak
-          Masalah-masalah fisik
-          Masalah-masalah perkawinan
-          Perubahan terjadi di lingkungan tinggal

C.     Pengertian Konflik
Konflik adalah bertengkar, bersaing, atau berebutan. Konflik bisa juga disebut dengan ketidaksepakatan. Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkanoleh seseorang terhadap oleh seseorang terhadap dirinya, oranglain, dan organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya. Konflik adalah suatu proses yang bermula dari konflik laten (terpendam), apabila tidak diselesaikan konflik akan berkembang dan membahayakan organisasi. Konflik adalah suatu hubungan yang selaluu terjadi pada setiap manusia selama dia melakukan hubungan (Umam,2012).
Konflik berasal dari bahasa Latin cofigere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis konflik diartikan sebagai proses sosial antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak mencoba menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuat tidak berdaya.
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreemen), adanya ketegangan (the presence of tension) atau munculnya kesulitan-kesulitan lain diantara dua pihak atau lebih.    
Konflik adalah sebuah persepsi yang berbeda dalam meihat suatu situasi dan kondisi yang selanjutnhya teraplikasi dalam bentuk aksi-aksi sehinga telah menimbulkan pertentangan pihak-pihak tertentu.
Definisi konflik dikemukakan oleh para ahli :
a.       Stephen P. Robbins :Konflik sebagai suatu proses dimana A melakukan usaha sengaja dibuat untuk menghilangkan usaha-usaha B dengan sebentuk usaha untuk menghalani sehingga mngakibatkan frustasi pada B dalam usaha uhntuk mwncapai tujuannya atau dalam meneruskan kepentingan-kepentingannya.
b.      Luthfians F (1985:385). Konflik merupakan ketidaksusuaian nilai atau tujuan antara anggota organisasi, sebagaimana dikemukakan “conflict has been defined as the condition of objective incompatibity between values or goals as the behavior or dliberately interfering with another goal achivement and emotionally in term of hostity”.
c.       Dubrin A.J (1984:346)mengartikan konflik mengacu pada pertentangan antar individu atau kelompok yang dapat meningkatkan ketegangan sebagai akibat saling menghalangi dalam pencapaian tujuan sebagaimana dikemukakan “conflict in the context used. Refers to the opposition of persons or forces that gives rise some tension. If ocurs when to or more parties (individuals, groups, organizations) perceive mutually exclusive goals or events.”
d.      T. Hani Handoko, Pada hakikatnya konflik dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak.     

-          Jelaskan Jenis-jenis Konflik
Berdasarkan fungsinya konflik dibagi menjadi dua macam yaitu konflik fungsional (funcional conflict) dan disfungsional mkonflik (disfunctional conflict). Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok, sedangkan konflik disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok. Batas yang membatasi apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu kelompok tetapi tidak fungsional bagi kelompok lain atau sebaliknya.
Konflik dilihat dari yang terlibat didalamnya. Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat didalam konflik maka dapat dibedakan menjadi empat sebagai berikut :
a.       Konflik dalam diri individu (conflict within the individual) yang terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertantangan atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.
b.      Konflik antar individu (conflict among individuals) yang terjadi karena perbedaan kepribadian (personality difference) antara individu yang satu dengan individu yang lain.
c.       Konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups) yang terjadi njika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempatnya bekerja.
d.      Konflik antar kelompok dalam tim kerja yang sama (conflict among groups in the same organization) yang terjadi karena masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
Lalu dilihat dari posisi seseorang dalam struktur tim kerja, ko0nflik dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
a.       Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara pegawai yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam tim kerja. Misalnya : antara atasan dan bawahan
b.      Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjadi antara pegawai mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam tim kerja. Misalnya : konflik antar pegawai atau antar departemen yang setingkat
c.       Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara pegawai lini yang biasanya memegang posisi nkomando dengan penjabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam tim kerja.
d.      Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.

Secara garis besar, konflik kerja terbagi menjadi atas dua jenis sebagai berikut :
a.       Subtantive conflict, merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dam pembagian jabatan pekerjaan.
b.      Emotional conflict, terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatil, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi (personality clashes)
.
Secara lebih rinci, Hensen (Suwardani, N,P.,1997) mwmbwdakan jenis konflik yaitu:
a.       Intrarole conflict
b.      Interrole conflict
c.       Intradepartmental conflict
d.      Interdepartmental conflict
e.       Intraorganizationnal conflict
f.       Organizational environment conflict
g.      Interpersonal conflict
h.      Intrapersonal conflict
i.        Intragroup conflict
j.        Intergroup conflict
k.      Interinformal system conflict and
l.        Informal system-environmenmental conflict

-          Jelaskan Proses-proses Konflik
Konflik merupakan proses yang dinamis, bukan kondisi stastis. Proses konflik yaitu:
a.       Antecendent condition atau latent conflict. Merupakan kondisi yang berpotensi untuk menyebabkan atau mengawali sebuah episode konflik. Terkadangb tindakan agresi dapat mengawali proses konflik. Kondisi-kondisi yang mendahului dapat terlihat tidak begitu jelas dipermukaan. Perlu diingat bahwa kondisi-kondisi ini belum tentu mengawali proses suatu konflik. Sebagai contoh, tekanan yang didapat departemen produksi suatu peruhaan untuk menekan biaya bisa menjadi sumber frustasi ketika menejer penjualan ingin agar produksi ditingkatkan untuk memenuhi permintaan dasar yang mendesak. Namn demikian, konflik belum tentu muncul karena kedua belah pihak tidak berkeras memenuhi keinginannya masing-masing. Disinilah dikatakan konflik bersifat laten, yaitu berpontesi untuk muncul, tetapi dalam kenyataanna tidak terjadi.
b.      Perceived conflict. agar konflik dapat berlanjut, kedua belah pihak harus mebyadari bahwa mereka dalam kedaan terancam dalam batas-batas tertentu. Tanpa rasa terancam ini, salah satu ihak dapat saja melakukan sesuatu yang berakibat negatif bagi pihak lain, tetapi tidak disadari sebagai ancaman. Seperti dalam kasus diatas, bila manager penjualan dan manager produksi memiliki kebijaksanaan bersama dalam mengatasi masalah permintaan pasar yang mendesak, bukan konflik yang akan muncul melainkan kerjasama yang baik. Akana tetapi, jika perilaku keduanta menimbulkan perselisihan, proses konflik itu akan cenderung berlanjut.
c.       Felt conflict. Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang merasakan adanya perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan, frustasi, rasa marah, rasa takut, maupun kegusaran akan bertambah. Disinilah mulai diragukannya kepercayaan terhadap pihak lain sehingga segala sesuatu dianggap sebagai ancaman, dan orang mlai berpikir bagaimana untuk mengatasi sutuasi dan ancaman tersebut.
d.      Manifest conflict. Persepsi dan perasaan menyebabkan orang untuk mereaksi terhadap situasi tersebut. Begitu banyak bentuk reaksi yang mungkin muncul pada tahap ini adalah berbagai argumentasi, tindakan agresif, atau bahkan munculnya niat baik yang menghasilkan penyelesaian masalah yang konstruktif.
e.       Conflict resulution atau suppression. Konflik resulution atau hasil suatu konflik dapat muncul dalam berbagai cara. Kedua belah pihak mungkn mencapai peretujuan yang mengakhiri konfliki tersebut. Mereka bahkan mulai mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya konflik dimasa yang akan datang. Akan tetapi, terkadang terjadi pengacuan (suppresion) dari konflik itu sendiri. Hal ini terjadi jika kedua belah pihak menghindari terjadinya reaksi yang keras, atau mencoba mengacukan begitu saja ketika terjadi perselisihan. Konflik juga dapat dikatakan selesai jika satu pihak berhasil mengalahkan pihak yang lain.
f.       Conflict alternatif. Ketika konflik terselesaikan, tetap ada perasaan yang tertinggal. Terkadang perasaan lega dan harmoni yang terjadi, seperti ketika kebijaksanaan baru yang dihasilkan dapat menjernihkan persoalan diantara kedua belah pihak dan dapat meminimalkan konflik-konflik yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang. Akan tetapi, jika yang tertinggal adalah perasaan yang tidak enak dan ketidakpuasan, kali ini dapat menjadi kondisi yang potensial untuk episode konflik yang selanjutnya. Pertanyaan kunci adalah apakah pihak-pihak yang terlibat lebih dapat bekerja sama atau malah semakin jauh akibat terjadinya konflik.     
 

Selain itu proses konflik ada lima tahap, yaitu :
1.      Potensi oposisi dan ketiakcocokan atau ketidakselarasan
Kondisi yang menciptakan terjadinya konflik meskipun kondisi tersebut tidak mengarah pada ke konflik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh komunikasi dan struktur variabel pribadi.
2.      Kognisi dan personalisasi, apabila pada tahap satu muncul kondisi yang negatif, maka pada tahap ini kondisi tersebut didefinisikan, sesuai persepsi pihak yang berkonflik.
3.      Maksud, keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu, yaitu persaingan, kolaborasi, penghidaran, akomodasi dan kompromi
4.      Perilaku, pada tahap ini konflik tampak nyata, mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat pihak-pihak berkonflik.
5.      Hasil atau akibat, pada tahap ini konflik dapat ditentukan apakah merupakan konflik fungsional atau konflik disfungsional.  

D.    Cari Kasus Yang Berkaitan Dengan Stress dan Konflik, Berikan solusi
Contoh kasus konflik :
Perbeaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boloeh ditebang. Para petani menebang pohon-pohon karena di anggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayu nya di ekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan sedangkan bagi pecinta lingkungan hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Disini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik di masyarakat khususnya konflik sosial. Solusinya adalah perlu adanya komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya, tinjau kembali dan sesuaikan dngan hasil eksplorasi diri sendiri, atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik, memantau sudut pandang dari semkua individu yang terlibat.   

Contoh kasus stres
Seorang insinyur berumur 28 tahun yang bekerja untuk PT Honda meninggal dunia, kematian mendadak, penyebab kematian aedang diselidiki, termasuk keterkaitan dengan pekerjaan. Surat kabar menampaikan bahwa mengklaim kematian seseorang tersebut karena adanya stress kerja, setelah bekerja 34 jam tanpa istirahat. Solusi yang tepat adalah dengan merubah sistem kerja yang ada di perusahaan tersebut agar dapat memberi kenyamanan untuk para pekerja. Selain itu juga menyesuaian upah setiap pekerja berdasarkan pekerjaan yang mereka lakukan.
 
II.                Komunikasi Dalam Manajemen
A.    Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu communication dan bersumber dari kata communis. Dalam komunikasi yang melibatkan dua orang, komunikasi berlangsung apabila adanya kesamaan makna. Komunikasi juga dapat berarti adanya kesamaan makna antara komunikator dan komunikan dengan tujuan mengubah sikap, opini, atau pandanga/perilaku orang lain tentang pesan yang disampaikan. Walaupun demikian, tidak semua pesan yang dapat disampaikan itu sesuai dengan apa yang diharapkan dan dapat terjadi kesalahan maksud dalam proses penerimaan pesan, untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang efektif.

B.     Jelaskan Proses Komunikasi
Para ahli komunikasi mendefinisikan proses komunikasi sebagai “Knowing what when he wants to communicate and knowing how he should deliver his message to give it the deepest penetration possible into the minds of this audience.” Definisi tersebut mengindikasikan bahwa karakter komunikator selalu berusaha meraih keberhasilan semaksimal mungkin dalam menyampaikan pesan. Artinya pengertian komunikasi bersumber dari gagasan komunikator yang ingin disampaikan kepada pihak penerima, dengan segala daya dan usaha bahkan tipu daya agar pihak penerima tersebut mengenal, mengerti, memahami serta menerima ideologinya lewat pesan-pesan yang disampaikan.

C.     Jelaskan Hambatan Komunikasi
a.       Perbedaan bahasa dan persepsi
Yaitu perbedaan bahasa antar suku dan budaya maka adanya perbedaan arti dalam bahasa dan sering kali persepsi pun salah satu hambatan dari komunikasi karena adana perbedaan pendapat antar individu.
b.      Gangguan Emosional
Yaitu kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang mengalami kecewa, marah, atau takut. Hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif.
c.       Overload informasi
Sering terganggu karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan yang disampaian semakin hari semakin banyak dan peluang terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk  untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi.
d.      Penyaringan yang tidak tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada oranglain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.

D.    Jelaskan Pengertian Komunikasi Interpersonal Efeketif Dalam Organisasi
Yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam situasi yang spesifik, oleh Krietner dan Knicki (2010) dinamakan communication, competence, kompetensi komunikasi. Komunikasi interpersonal yang efektif tergantung pada kemampuan sender menyampaikan keseluruhan pesan dan kinerja receiver sebagai active listener pendengar atau penyimak aktif.
Pembahasan ini mencakup :
a.       Getting your messages accross.
Yaitu komunikasi yang efektif terjadi ketika orang lain menerima dan memahami pesan yang disampaikan. Untuk menyampaikan tugas sulit ini sender harus belajar empati pada receiver, mengulang berita, memilih waktu yang tepat untuk melakukan percakapan dan menjadi lebih deskriptif dari pada evaluatif.
b.      Active listening
Merupakan proses untuk secara aktif merasakan sinyal sender, mengevaluasi secara akurat dan merespon dimaksudkan dan mengusahakan umpan balik yang tepat dan pada waktunya kepada sender.

E.     Jelaskan Model Pengolahan Informasi Dalam Komunikasi
Model ini sengaja dirancajg untuk memperkuat kemampuan intelektual umum, diantaranya yaitu :
a.       Pencapaian konsep
b.      Berpikir induktif
c.       Latihan penelitian
d.      Memorisasi
e.       Perkembangan intelek
f.       Penelitian ilmiah
Ada empat model pengolahan informasi antara lain :
a.       Rational yaitu permodelan secara visual yang memiliki banyak kemampuan (powerful) untuk pembentukan sistem berorientasi objek.
b.      Limited capacity yaitu merupakan kapasitas pengolahan informasi terbatas kepada tujuan manipulasi sebuat subset informasi yang tersedia.
c.       Expert yaitu keahlian yang dibutuhkan dalam pengolahan informasi yang mnvkin tersedia.
d.      Cybernetic merupakan teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, umpan balik (feedback) sebagai npengontrol dari sistem yang berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.

F.      Jelaskan Model Interaktif Manajemen Dalam Komunikasi
Sebuah model atau cara atau teknik yang digunakan saat menyajikan berbagai informasi secara interaktif. Model interaktif menajemen dalam komuniasi mencakup :
a.      Confidence dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
b.      Immediacy, Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
c.       Interaction management yaitu adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
d.      Expressiveness yaitu mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
e.       Other-orientation dalam suatu manajemen organisasi berorientasi kepada pegawai.  


Daftar Pustaka
Rochman,K.L.(2010).Kesehatan Mental.Yogyakarta : Fajar media press
Widyastuti,P.(2003).Manajemen stress.Jakarta : EGC
Winardi.(2001).Motivasi dan pemotivasian. Grafindo