Sabtu, 11 November 2017
Minggu, 05 November 2017
Minggu, 15 Januari 2017
Tugas Sofskill Ke-4
Nama : Era Lovi Setyowati
Kelas : 3PA14
NPM : 13514588
I.
EMPOWERMENT, STRESS DAN KONFLIK
A. Pengertian
Empowerment
Empowerment adalah upaya
mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Pendekatan
pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan
kepada individu bukan sebagai objek tetapi nsebagai pelaku atau aktor yang
menentukan hidup mereka sendiri.
Secara umum pemberdayan
didefinisikan sebagai suatu proses sosial multi-dimensional yang membantu
penduduk untuk mengawasi kehidupannya sendiri. Pemberdayaan itu merupakan
proses yang memupuk kekuasaan (yaitu, kemampuan mengimplementasikan) pada
individu untuk penggunaan bagi kehidupan mereka sendiri, komunitas mereka,
dengan berbuat mengenai norma-norma mereka tentukan.
Richard Carver, Managing director dari
Covardale Organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan
membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk
meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat
meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat
meningkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi.
B. Pengertian
Stress
Suatu kondisi ketegangan yang
menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis yang memengaruhi emosi,
proses berfikir, dan kondisi seseorang, stress yang terlalu besar dapat
mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Gejala-gejala stres
yaitu gugup, tegang, selalu cemas, gangguan pencernaan, tegangan darah tinggi. Orang-orang
yang mengalami stres bisa menjadi nervous
dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering menjadi mudah marah dan
agresif, tidak dapat rileks, atau menunjukkan sikap yang tidak kooperatif.
Para ahli mengatakan bahwa stres
dapat timbul sebagai akibat tekanan atau ketegangan yang bersumber dari
ketidakselarasan antara seseorang dengan lingkungannya.
-
Sumber Stress
Pada dasarnya berbagai sumber stres
dapat digolongkan pada yang berasal dari pekerjaan dan dari luar pekerjan
seseorang. Berbagai hal yang dapat menjadi sumber stres yang berasal dari
pekerjaan pun dapat beraneka ragam seperti beban tugas yang terlalu berat,
desakan waktu, iklim kerja yang menimbulkan rasa tidak aman, kurangnya
informasi dari umpan balik tentang prestasi kerja seseorang, ketidak seimbangan
antara wewenang dan tanggung jawab, ketidakjelasan peranan karyawan dalam
keseluruhan kegiatan organisasi, frustasi yang ditimbulkan oleh intervensi
pihak lain didalam dan diluar kelompok kerjanya, perbedaan sistem nilai yang
dianut oleh organisasi dan perubahan yang terjadi yang pada umumnya memang
menimbulkan rasa ketidakpastian.
Situasi lingkungan diluar pekerjaan
pun dapat menjadi sumber stres. Berbagai masalah yang dihadapi oleh seseorang,
seperti masalah keuangan, perilaku negatif anak-anak, kehidupan keluarga yang
tidak atau kurang harmonis, pindah tempat tinggal ada anggota keluarga yang meninggal,
kecelakaan.
Dilain pihak stres dapat di
sebabkan karena :
-
Kekhawatiran finansial
-
Masalah-masalah yang bersangkutan dengan
anak
-
Masalah-masalah fisik
-
Masalah-masalah perkawinan
-
Perubahan terjadi di lingkungan tinggal
C. Pengertian
Konflik
Konflik adalah bertengkar,
bersaing, atau berebutan. Konflik bisa juga disebut dengan ketidaksepakatan.
Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkanoleh
seseorang terhadap oleh seseorang terhadap dirinya, oranglain, dan organisasi
dengan kenyataan apa yang diharapkannya. Konflik adalah suatu proses yang
bermula dari konflik laten (terpendam), apabila tidak diselesaikan konflik akan
berkembang dan membahayakan organisasi. Konflik adalah suatu hubungan yang
selaluu terjadi pada setiap manusia selama dia melakukan hubungan (Umam,2012).
Konflik berasal dari bahasa Latin cofigere yang berarti saling memukul.
Secara sosiologis konflik diartikan sebagai proses sosial antara dua orang atau
lebih dimana salah satu pihak mencoba menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkan atau membuat tidak berdaya.
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreemen), adanya ketegangan (the presence of tension) atau munculnya
kesulitan-kesulitan lain diantara dua pihak atau lebih.
Konflik adalah sebuah persepsi yang
berbeda dalam meihat suatu situasi dan kondisi yang selanjutnhya teraplikasi
dalam bentuk aksi-aksi sehinga telah menimbulkan pertentangan pihak-pihak
tertentu.
Definisi konflik dikemukakan oleh
para ahli :
a. Stephen
P. Robbins :Konflik sebagai suatu proses dimana A melakukan usaha sengaja
dibuat untuk menghilangkan usaha-usaha B dengan sebentuk usaha untuk menghalani
sehingga mngakibatkan frustasi pada B dalam usaha uhntuk mwncapai tujuannya
atau dalam meneruskan kepentingan-kepentingannya.
b. Luthfians
F (1985:385). Konflik merupakan ketidaksusuaian nilai atau tujuan antara
anggota organisasi, sebagaimana dikemukakan “conflict has been defined as the condition of objective incompatibity
between values or goals as the behavior or dliberately interfering with another
goal achivement and emotionally in term of hostity”.
c. Dubrin
A.J (1984:346)mengartikan konflik mengacu pada pertentangan antar individu atau
kelompok yang dapat meningkatkan ketegangan sebagai akibat saling menghalangi
dalam pencapaian tujuan sebagaimana dikemukakan “conflict in the context used. Refers to the opposition of persons or
forces that gives rise some tension. If ocurs when to or more parties
(individuals, groups, organizations) perceive mutually exclusive goals or
events.”
d. T.
Hani Handoko, Pada hakikatnya konflik dapat didefinisikan sebagai segala macam
interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak.
-
Jelaskan Jenis-jenis Konflik
Berdasarkan
fungsinya konflik dibagi menjadi dua macam yaitu konflik fungsional (funcional conflict) dan disfungsional
mkonflik (disfunctional conflict).
Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok dan
memperbaiki kinerja kelompok, sedangkan konflik disfungsional adalah konflik
yang merintangi pencapaian tujuan kelompok. Batas yang membatasi apakah suatu
konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik
mungkin fungsional bagi suatu kelompok tetapi tidak fungsional bagi kelompok
lain atau sebaliknya.
Konflik
dilihat dari yang terlibat didalamnya. Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat
didalam konflik maka dapat dibedakan menjadi empat sebagai berikut :
a.
Konflik dalam diri individu (conflict within the individual) yang
terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertantangan atau
karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.
b. Konflik
antar individu (conflict among
individuals) yang terjadi karena perbedaan kepribadian (personality difference) antara individu
yang satu dengan individu yang lain.
c. Konflik
antara individu dan kelompok (conflict
among individuals and groups) yang terjadi njika individu gagal
menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempatnya bekerja.
d.
Konflik antar kelompok dalam tim kerja
yang sama (conflict among groups in the
same organization) yang terjadi karena masing-masing kelompok memiliki
tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
Lalu dilihat dari posisi seseorang dalam struktur
tim kerja, ko0nflik dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
a.
Konflik vertikal, yaitu konflik yang
terjadi antara pegawai yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam tim kerja.
Misalnya : antara atasan dan bawahan
b.
Konflik horizontal, yaitu konflik yang
terjadi antara pegawai mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat
dalam tim kerja. Misalnya : konflik antar pegawai atau antar departemen yang
setingkat
c.
Konflik garis-staf, yaitu konflik yang
terjadi antara pegawai lini yang biasanya memegang posisi nkomando dengan
penjabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam tim kerja.
d.
Konflik peran, yaitu konflik yang
terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling
bertentangan.
Secara
garis besar, konflik kerja terbagi menjadi atas dua jenis sebagai berikut :
a.
Subtantive
conflict, merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan
kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi
kebijaksanaan dan prosedur, dam pembagian jabatan pekerjaan.
b.
Emotional
conflict, terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya,
tidak simpatil, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi (personality clashes)
.
Secara lebih rinci, Hensen (Suwardani, N,P.,1997)
mwmbwdakan jenis konflik yaitu:
a.
Intrarole conflict
b.
Interrole conflict
c.
Intradepartmental conflict
d.
Interdepartmental conflict
e.
Intraorganizationnal conflict
f.
Organizational environment conflict
g.
Interpersonal conflict
h.
Intrapersonal conflict
i.
Intragroup conflict
j.
Intergroup conflict
k.
Interinformal system conflict and
l.
Informal system-environmenmental
conflict
-
Jelaskan Proses-proses Konflik
Konflik merupakan proses yang
dinamis, bukan kondisi stastis. Proses konflik yaitu:
a. Antecendent
condition atau latent conflict. Merupakan kondisi yang berpotensi untuk
menyebabkan atau mengawali sebuah episode konflik. Terkadangb tindakan agresi
dapat mengawali proses konflik. Kondisi-kondisi yang mendahului dapat terlihat
tidak begitu jelas dipermukaan. Perlu diingat bahwa kondisi-kondisi ini belum
tentu mengawali proses suatu konflik. Sebagai contoh, tekanan yang didapat
departemen produksi suatu peruhaan untuk menekan biaya bisa menjadi sumber
frustasi ketika menejer penjualan ingin agar produksi ditingkatkan untuk
memenuhi permintaan dasar yang mendesak. Namn demikian, konflik belum tentu
muncul karena kedua belah pihak tidak berkeras memenuhi keinginannya
masing-masing. Disinilah dikatakan konflik bersifat laten, yaitu berpontesi
untuk muncul, tetapi dalam kenyataanna tidak terjadi.
b. Perceived
conflict. agar konflik dapat berlanjut, kedua belah pihak harus mebyadari bahwa
mereka dalam kedaan terancam dalam batas-batas tertentu. Tanpa rasa terancam
ini, salah satu ihak dapat saja melakukan sesuatu yang berakibat negatif bagi
pihak lain, tetapi tidak disadari sebagai ancaman. Seperti dalam kasus diatas,
bila manager penjualan dan manager produksi memiliki kebijaksanaan bersama
dalam mengatasi masalah permintaan pasar yang mendesak, bukan konflik yang akan
muncul melainkan kerjasama yang baik. Akana tetapi, jika perilaku keduanta
menimbulkan perselisihan, proses konflik itu akan cenderung berlanjut.
c. Felt
conflict. Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang
merasakan adanya perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan,
frustasi, rasa marah, rasa takut, maupun kegusaran akan bertambah. Disinilah mulai
diragukannya kepercayaan terhadap pihak lain sehingga segala sesuatu dianggap
sebagai ancaman, dan orang mlai berpikir bagaimana untuk mengatasi sutuasi dan
ancaman tersebut.
d. Manifest
conflict. Persepsi dan perasaan menyebabkan orang untuk mereaksi terhadap
situasi tersebut. Begitu banyak bentuk reaksi yang mungkin muncul pada tahap
ini adalah berbagai argumentasi, tindakan agresif, atau bahkan munculnya niat
baik yang menghasilkan penyelesaian masalah yang konstruktif.
e. Conflict
resulution atau suppression. Konflik resulution atau hasil suatu konflik dapat
muncul dalam berbagai cara. Kedua belah pihak mungkn mencapai peretujuan yang
mengakhiri konfliki tersebut. Mereka bahkan mulai mengambil langkah-langkah
untuk mencegah terulangnya konflik dimasa yang akan datang. Akan tetapi,
terkadang terjadi pengacuan (suppresion) dari konflik itu sendiri. Hal ini terjadi
jika kedua belah pihak menghindari terjadinya reaksi yang keras, atau mencoba
mengacukan begitu saja ketika terjadi perselisihan. Konflik juga dapat
dikatakan selesai jika satu pihak berhasil mengalahkan pihak yang lain.
f. Conflict
alternatif. Ketika konflik terselesaikan, tetap ada perasaan yang tertinggal. Terkadang
perasaan lega dan harmoni yang terjadi, seperti ketika kebijaksanaan baru yang
dihasilkan dapat menjernihkan persoalan diantara kedua belah pihak dan dapat
meminimalkan konflik-konflik yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang. Akan
tetapi, jika yang tertinggal adalah perasaan yang tidak enak dan ketidakpuasan,
kali ini dapat menjadi kondisi yang potensial untuk episode konflik yang
selanjutnya. Pertanyaan kunci adalah apakah pihak-pihak yang terlibat lebih
dapat bekerja sama atau malah semakin jauh akibat terjadinya konflik.
Selain itu proses konflik ada lima tahap, yaitu
:
1.
Potensi oposisi dan ketiakcocokan atau ketidakselarasan
Kondisi
yang menciptakan terjadinya konflik meskipun kondisi tersebut tidak mengarah
pada ke konflik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh komunikasi dan
struktur variabel pribadi.
2.
Kognisi dan personalisasi, apabila pada tahap satu muncul kondisi
yang negatif, maka pada tahap ini kondisi tersebut didefinisikan, sesuai
persepsi pihak yang berkonflik.
3.
Maksud, keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu, yaitu
persaingan, kolaborasi, penghidaran, akomodasi dan kompromi
4.
Perilaku, pada tahap ini konflik tampak nyata, mencakup
pernyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat pihak-pihak berkonflik.
5.
Hasil atau akibat, pada tahap ini konflik dapat ditentukan apakah
merupakan konflik fungsional atau konflik disfungsional.
D.
Cari Kasus Yang Berkaitan Dengan Stress dan Konflik, Berikan
solusi
Contoh kasus konflik :
Perbeaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan.
Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi
bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boloeh ditebang.
Para petani menebang pohon-pohon karena di anggap sebagai penghalang bagi
mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon
ditebang dan kemudian kayu nya di ekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan
sedangkan bagi pecinta lingkungan hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga
harus dilestarikan. Disini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu
kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik di
masyarakat khususnya konflik sosial. Solusinya adalah perlu adanya komitmen
dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan
satu sama lainnya, tinjau kembali dan sesuaikan dngan hasil eksplorasi diri
sendiri, atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat
konflik, memantau sudut pandang dari semkua individu yang terlibat.
Contoh kasus stres
Seorang insinyur berumur 28 tahun yang bekerja
untuk PT Honda meninggal dunia, kematian mendadak, penyebab kematian aedang
diselidiki, termasuk keterkaitan dengan pekerjaan. Surat kabar menampaikan
bahwa mengklaim kematian seseorang tersebut karena adanya stress kerja, setelah
bekerja 34 jam tanpa istirahat. Solusi yang tepat adalah dengan merubah sistem
kerja yang ada di perusahaan tersebut agar dapat memberi kenyamanan untuk para
pekerja. Selain itu juga menyesuaian upah setiap pekerja berdasarkan pekerjaan
yang mereka lakukan.
II.
Komunikasi Dalam Manajemen
A. Pengertian
Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari
bahasa latin yaitu communication dan
bersumber dari kata communis. Dalam
komunikasi yang melibatkan dua orang, komunikasi berlangsung apabila adanya
kesamaan makna. Komunikasi juga dapat berarti adanya kesamaan makna antara komunikator
dan komunikan dengan tujuan mengubah sikap, opini, atau pandanga/perilaku orang
lain tentang pesan yang disampaikan. Walaupun demikian, tidak semua pesan yang
dapat disampaikan itu sesuai dengan apa yang diharapkan dan dapat terjadi
kesalahan maksud dalam proses penerimaan pesan, untuk itu diperlukan suatu
komunikasi yang efektif.
B. Jelaskan
Proses Komunikasi
Para ahli komunikasi mendefinisikan
proses komunikasi sebagai “Knowing what
when he wants to communicate and knowing how he should deliver his message to
give it the deepest penetration possible into the minds of this audience.” Definisi
tersebut mengindikasikan bahwa karakter komunikator selalu berusaha meraih
keberhasilan semaksimal mungkin dalam menyampaikan pesan. Artinya pengertian
komunikasi bersumber dari gagasan komunikator yang ingin disampaikan kepada pihak
penerima, dengan segala daya dan usaha bahkan tipu daya agar pihak penerima
tersebut mengenal, mengerti, memahami serta menerima ideologinya lewat
pesan-pesan yang disampaikan.
C. Jelaskan
Hambatan Komunikasi
a. Perbedaan
bahasa dan persepsi
Yaitu perbedaan bahasa antar suku
dan budaya maka adanya perbedaan arti dalam bahasa dan sering kali persepsi pun
salah satu hambatan dari komunikasi karena adana perbedaan pendapat antar
individu.
b. Gangguan
Emosional
Yaitu
kesulitan dalam menyusun pesan jika sedang mengalami kecewa, marah, atau takut.
Hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit
bersikap objektif.
c.
Overload informasi
Sering terganggu karena materinya rumit dan
kontroversial. Jumlah pesan yang disampaian semakin hari semakin banyak dan
peluang terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk untuk meluruskan salah pengertian ketika hal
itu terjadi.
d. Penyaringan
yang tidak tepat
Menyaring
adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada
oranglain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi
yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan.
D. Jelaskan
Pengertian Komunikasi Interpersonal Efeketif Dalam Organisasi
Yaitu kemampuan berkomunikasi
secara efektif dalam situasi yang spesifik, oleh Krietner dan Knicki (2010)
dinamakan communication, competence, kompetensi komunikasi. Komunikasi
interpersonal yang efektif tergantung pada kemampuan sender menyampaikan
keseluruhan pesan dan kinerja receiver sebagai active listener pendengar atau
penyimak aktif.
Pembahasan ini mencakup :
a.
Getting your messages accross.
Yaitu komunikasi yang efektif terjadi ketika orang
lain menerima dan memahami pesan yang disampaikan. Untuk menyampaikan tugas
sulit ini sender harus belajar empati pada receiver, mengulang berita, memilih
waktu yang tepat untuk melakukan percakapan dan menjadi lebih deskriptif dari
pada evaluatif.
b.
Active listening
Merupakan proses untuk secara aktif merasakan sinyal
sender, mengevaluasi secara akurat dan merespon dimaksudkan dan mengusahakan
umpan balik yang tepat dan pada waktunya kepada sender.
E. Jelaskan
Model Pengolahan Informasi Dalam Komunikasi
Model ini sengaja dirancajg untuk
memperkuat kemampuan intelektual umum, diantaranya yaitu :
a. Pencapaian
konsep
b. Berpikir
induktif
c. Latihan
penelitian
d. Memorisasi
e. Perkembangan
intelek
f.
Penelitian ilmiah
Ada empat model pengolahan informasi antara lain :
a.
Rational yaitu permodelan secara visual yang
memiliki banyak kemampuan (powerful) untuk pembentukan sistem berorientasi
objek.
b.
Limited capacity yaitu merupakan
kapasitas pengolahan informasi terbatas kepada tujuan manipulasi sebuat subset
informasi yang tersedia.
c.
Expert yaitu keahlian yang dibutuhkan
dalam pengolahan informasi yang mnvkin tersedia.
d.
Cybernetic merupakan teori sistem
pengontrol yang didasarkan pada komunikasi antara sistem dan lingkungan dan
antar sistem, umpan balik (feedback) sebagai npengontrol dari sistem yang
berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.
F. Jelaskan
Model Interaktif Manajemen Dalam Komunikasi
Sebuah model atau cara atau teknik
yang digunakan saat menyajikan berbagai informasi secara interaktif. Model
interaktif menajemen dalam komuniasi mencakup :
a. Confidence
dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenamanan
tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu
kepercayaan dan pengertian.
b. Immediacy,
Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak
membosankan.
c. Interaction
management yaitu adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan
dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
d. Expressiveness
yaitu mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam
ekspresi perilaku.
e.
Other-orientation dalam suatu manajemen
organisasi berorientasi kepada pegawai.
Daftar Pustaka
Rochman,K.L.(2010).Kesehatan Mental.Yogyakarta : Fajar media press
Widyastuti,P.(2003).Manajemen stress.Jakarta : EGC
Winardi.(2001).Motivasi dan pemotivasian. Grafindo
Daftar Pustaka
Rochman,K.L.(2010).Kesehatan Mental.Yogyakarta : Fajar media press
Widyastuti,P.(2003).Manajemen stress.Jakarta : EGC
Winardi.(2001).Motivasi dan pemotivasian. Grafindo
Langganan:
Postingan (Atom)